IDUL FITHRI 1435 H/2014 M

IDUL FITHRI

IDUL berarti kembali, yakni kembali ke tempat atau ke keadaan semula.

FITHR berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.

sehingga ‘idul fithr antara lain berarti kembalinya   manusia   kepada   keadaan   sucinya,   atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda, sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian.

 

Dosa memang mengakibatkan manusia menjauh dari posisinya semula. Baik kedekatan posisinya terhadap Allah maupun sesama manusia.

 

Idul fithri mengandung pesan agar yang merayakannya mewujudkan kedekatan

kepada Allah dan sesama manusia. Kedekatan tersebut diperoleh antara lain dengan kesadaran terhadap kesalahan yang telah diperbuat.

MINAL AIDIN WAL FAIZIN

Kata ‘Aidin, adalah bentuk pelaku ‘Id. (orang yang kembali ke asal)

Kata al-faizin adalah bentuk jamak dari faiz, yang berarti orang yang beruntung. Kata ini terambil dari kata fauz yang berarti keberuntungan.

Minal Aidin wal faizin adalah orang yang kembali ke fitrahnya (agamanya) dan meraih keberuntungan (kemenangan)atau ‘Semoga kita termasuk orang yang kembali dan menuai kemenangan‘.

Bagi orang yang egois (jangan sampai kita termasuk), keberuntungan adalah keuntungan material, dan popularitas, dan keberuntungan itu hanya ingin dinikmatinya sendiri.   Keberuntungan   orang   lain   bukan   merupakan keberuntungan pula baginya. Itu antara lain yang menyebab dia dikecam oleh Allah. Berbeda dengan petunjuk A1-Quran yang tidak mengaitkan keberuntungan dengan orang tertentu, dan kalaupun dikaitkan dengan orang-orang tertentu tidak ditujukan kepada individu perorangan, melainkan kepada bentuk kolektif (al-faizin atau al-faizun).

 

Keberuntungan yang sebenarnya adalah pengampunan Ilahi maupun kenikmatan surgawi, sebagai ganjaran ketaatan kepada Allah SWT. HALAL BIHALAL

Kata halal dari segi hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan   haram;   sedangkan   haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa.

 

Hukum Islam memperkenalkan panca hukum yaitu wajib, sunnah,mubah, makruh dan haram. Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk yang makruh, dalam arti, yang dianjurkan untuk ditinggalkan). Nabi Saw. bersabda, “Abghadu al-halal ila Allah, ath-thalaq” (Halal yang paling dibenci Allah adalah

pemutusan hubungan suami-istri).

 

Apabila halal bihalal diartikan dalam konteks hukum, maka tidak akan menyebabkan lahirnya hubungan harmonis   antar sesama, bahkan mungkin dalam beberapa hal dapat menimbulkan kebencian Allah kepada pelakunya. Karena itu, sebaiknya kata halal pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal pengertian hukum.

 

Halal dalam bahasa Al Quran dikaitkan dengan perintah makan dan digandengkan dengan kata thayyibah (baik). Kata makan dalam Al-Quran   sering   diartikan   “melakukan aktivitas apa pun.” Ini agaknya disebabkan karena makan merupakan   sumber   utama   perolehan   kalori   yang   dapat menghasilkan aktivitas. Dengan demikian, perintah makan dalam ayat-ayat al Quran bermakna perintah melakukan aktivitas,sedangkan aktivitasnya tidak sekadar halal, tetapi juga harus thayyib (baik).

Cinta Allah (Innallaha yuhib)untuk at-tawabin (orang yang bertobat),ash-shabirin (orang-orang sabar), shaffan wahida (orang yang berada dalam satu barisan/kesatuan, al-mutawakkilin (orang yang berserah diri kepada Allah), al-mutathahirin (orang-orang yang menyucikan diri), al-muttaqin (orang yang

bertakwa), al-muqsithin (orang yang berlaku adil), dan al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahan). Hal ini sesuai sekali dengan perintah Al-Quran untuk melakukan perbuatan halal yang baik, tidak sekadar perbuatan halal (boleh), tetapi tidak menghasilkan kebaikan.

 

Dalam Al-Quran surat Ali-‘Imran   ayat   134   diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan.

 

Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat

keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit, dan

orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan

orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap

mereka). Sesunguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat

baik (terhadap orang yang bersalah).

 

Di sini terbaca, bahwa tahap pertama adalah menahan amarah,tahap kedua memberi maaf, dan tahap berikutnya adalah berbuat baik terhadap orang yang bersalah.

TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINKUM (wa minka) (HR Ad Daruquthni)

Allah menerima amal kami dan amal kamu

(aL misbah)